Latar Belakang
Undang-Undang ini dibentuk untuk mengakomodasi perkembangan sistem perbankan nasional yang berlandaskan prinsip syariah Islam dalam rangka memperkuat stabilitas ekonomi dan memperluas akses layanan keuangan. Sebelumnya, pengaturan mengenai perbankan syariah masih tercampur dengan sistem perbankan konvensional sehingga diperlukan dasar hukum tersendiri yang mengatur kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah.
Pokok-Pokok Pengaturan
Undang-Undang ini mengatur kegiatan usaha bank syariah dan unit usaha syariah, termasuk prinsip bagi hasil, jual beli, dan sewa yang sesuai dengan syariat Islam. Diatur pula bentuk kelembagaan bank syariah, perizinan, pengawasan, serta mekanisme pembentukan Dewan Pengawas Syariah yang berfungsi memastikan kesesuaian kegiatan bank dengan prinsip syariah. Selain itu, Undang-Undang ini menegaskan fungsi sosial perbankan syariah, seperti pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Pengaturan Peralihan Penutup
Seluruh ketentuan perbankan yang ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah diberikan waktu untuk menyesuaikan diri sesuai ketentuan dalam Undang-Undang ini.